Kamu. Ya, lagi-lagi kamu.
Kita sudah saling kenal sejak hari pertama orientasi di SMA dan lucunya, saat itu kamu masih terlihat konyol dan aneh. Aku pun, dulunya, adalah seorang yang terlalu meledak-ledak.
Namun rasanya semua mulai berubah. Baiklah, aku berandai-andai saja kamu membacanya. Namun, jangan salah. Sebenarnya aku tidak akan pernah menunjukkan tulisanku ini pada siapa pun. Termasuk kamu.
Saling ejek, saling lempar joke, bahkan akhirnya menyadari kita memiliki passion yang sama. Sesuatu yang, kau tahu kan, akan membuatmu melakukan segala cara untuk meraihnya. Aku memiliki itu juga. Di bidang yang sama denganmu. Dan sudah kuputuskan, aku selalu ingin di atasmu.
Kamu. Kenapa kamu selalu membuatku salah tingkah sendiri? Kamu selalu berhasil membuatku menjerit-jerit di lantai dua saat salah seorang temanku mengancam akan memberitahukan apa-apa saja yang kusimpan sendiri tentang kamu.
Selalu kamu.
Momen favoritku adalah saat kita ikut lomba yang sama dan kita bertukar cerita. Aku menceritakan kehidupanku yang tampaknya biasa-biasa saja dan kau menceritakan impianmu yang begitu besar. Suatu hari akhirnya kuceritakan impianku padamu. Belajar sastra Inggris. Katamu, London. Dan sejak saat itulah aku selalu ingin pergi ke sana. London.
Ada sekitar belasan foto landscape kota itu di laptopku, berganti-ganti menjadi screen saver. Kalau itu bukan karena ulahmu, siapa lagi?
Suatu hari di saat kita sedang makan di sebuah lesehan selepas berkompetisi, aku bercerita ingin belajar film dan kau melarangku. Katamu, tidak bagus buatku masuk ke dalam dunia entertainment. Bagimu, akan lebih keren jika aku melanjutkan studiku di bidang ekonomi.
Kedengaran seperti Papa saja, yang selalu memberiku dorongan untuk melanjutkan studiku di kotanya Patung Merlion atau, paling tidak, di ibukota, di STAN. Aku tetap menggeleng keras. Baru kali ini aku tidak ingin menurutimu.
Sebab kau baru kali ini terlihat mirip seperti Papa yang begitu ingin aku menjadi akuntan. Oh, itu bukan cita-citaku, jujur saja.
Aku ingat satu hal. Dulu selepas Pramuka, lewat jendela, kau menyerahkan sebuah kartu padaku (yang tidak pernah kusangka, hahaha...) dan kau menulis di kartu itu, semoga aku sukses dengan TOEFL-ku. Tahu sekarang di mana kartu ber-background bendera Inggris itu? Kujadikan pembatas buku TOEFL-ku yang selalu kubawa ke mana-mana.
Kamu. Dan selalu kamu yang berhasil membuatku takjub.
Lama-kelamaan kau berkembang. Sekarang, kau mulai terkenal, paling tidak...cewek-cewek sekolah lain sekarang sudah mulai banyak yang jadi fansmu. Kau menjadi vokalis utama grup acapella yang jadi juara satu di kompetisi nasyid bergengsi. Kau bercerita, banyak cewek yang mengajakmu foto bareng. Cemburu? No, I'm happy with your development.
Saat aku berulang tahun yang ke-16, beberapa hari sebelumnya, kuberitahu kau tentang hari menyenangkan itu. Entah kenapa rasanya senang sekali, sebab aku benci mengingat kenangan saat aku, kamu, dan teman kita bersama-sama menghadiri undangan gala dinner, lalu kita ngobrol bareng dan kau lupa ulang tahunku, padahal aku sudah pernah memberitahumu. Katamu saat itu begitu tahu hari ulang tahunku, aku harus melihatmu tampil besok Minggu. Kupenuhi janjiku. Ya, aku melihatmu perform di hari bebas kendaraan bermotor.
Kau tahu apa yang paling menyenangkan dari itu? Ketika di sana, begitu kita bertemu pertama kali, kau langsung mengucapkan selamat ulang tahun. Oh, ternyata ingatanmu kuat juga, pikirku.
Dan ada yang menyenangkan lagi. Ketika adikku memberitahuku tentang statusmu kemarin, up all night, mau ngucapin happy birthday.
Kamu. Dan selalu kamu yang berhasil membuat hal-hal di luar logika terjadi.
Jujur saja, ketika orang lain bertanya tentang sikapku padamu, aku selalu menjawab aku tidak peduli. Memang aku tidak peduli. Meski aku selalu bertanya-tanya mengapa aku tetap merasa penasaran tentang apa yang terjadi padamu meski sudah berusaha tidak peduli. Aku tidak peduli sekarang siapa yang kamu sukai dan aku juga tidak terlalu memikirkan itu. Bodoh? Memang aku bodoh, dan itu yang membuat teman-temanku sering bertanya, apakah aku masih menyukaimu atau tidak. Kujawab, tidak.
Namun instingku tetap berkata iya.
Aku ingat banyak hal yang temanku katakan. Tentang ucapanmu...kau tahu? Kau berkata pada teman-temanku, 3 tahun lagi aku cantik. Berarti sekarang aku tidak cantik? Kuakui, iya! Pernah kan kita menonton film Thailand berjudul First Love? Aku toh seperti pemeran utama ceweknya, tidak menarik, tidak terlalu pintar pelajaran lain, tapi bahasa Inggris-ku yang membawaku unggul, berkulit gelap, dan...tidak cantik. Namun kau bukanlah tokoh utama prianya. Kamu tidak pandai olahraga, yang kau suka hanya bersepeda dan renang, dan kau unggul di bahasa Inggris.
Entah kenapa cerita kita seperti sudah diatur dalam film itu. Ketika kita sama-sama ikut teater, itulah yang kuingat. Sama persis.
Benar apa yang kau katakan. Aku tidak cantik. Aku memang tidak suka orang memujiku cantik. Aku risih mendengarnya, padahal aku yakin setiap wanita suka dipuji cantik. Apakah aku normal?
Kamu. Hanya kamu yang bisa memberiku setetes keajaiban yang kubutuhkan di saat-saat genting.
Aku teringat suatu hari temanku berceloteh tentang bunga edelweiss yang kau tinggalkan saat kita pindahan asrama. Hari itu, selepas upacara. Aku menggeleng keras, tidak mungkin kamu melakukannya. Bodoh, aku toh juga tidak berpikir kau memiliki sesuatu yang sama denganku.
Namun jangan salah. Aku pernah mendengar tentang bunga edelweiss itu. Saat aku berkumpul dengan teman-teman SMA, ada yang berceloteh bahwa salah satu cowok meninggalkan bunga edelweiss di salah satu kamar, dengan sebuah kartu. Aku tidak terlalu mendengarkan, tapi ketika temanku itu berkata sesuatu, aku percaya dia jujur. Namun di sisi lain, aku tidak percaya yang kau lakukan. Itu bohong bagiku.
Suatu hari kita pernah bertemu. Kau tidak memakai seragam. Kutanyakan di mana seragammu dan jawabmu, "Di Edelweiss," lalu kau diam sebentar, "Maksudku laundry Edelweiss lho, bukan edelweiss itu,"
Aku mulai curiga. Hei, aku tahu ketika kau menyebutkan edelweiss, pastilah kau menyebutkan salah satu nama toko laundry yang selalu mencucikan seragam-seragam kita. Namun, kenapa kau berkata bukan edelweiss itu padahal aku tidak menyinggungnya sama sekali? Aneh!
Kamu. Selalu kamu yang membuatku tertawa terbahak-bahak.
Hanya kamu yang bisa membuat candaan itu.
Thanks, for every moments we have.
P.S.: Saat aku menulis ini, aku mendengarkan lagu yang kamu bilang...sudah mainstream kamu nyanyiin bersama grup acapella-mu
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar