Langsung ke konten utama

One Special Post: It's About Me

Aku yakin kamu udah bosan dengar ceritaku. Ya, kamu. Kamu yang selalu jadi temanku bercerita tentang mimpiku.

Namun banyak sekali hal yang kamu ga tahu.

Pertama, kamu mungkin hanya tahu aku suka Korea. Kamu protes keras ketika aku ingin nyetel lagu, takutnya Korea semua dan kau tidak menyukainya (padahal aku tahu dulu kamu di SMP adalah penggemar Super Junior, keke...). Sebenarnya aku paling suka musik instrumental, bukan Korea. Lagu favoritku, baiklah, itu semua lagu-lagu Asia. Namun selera musikku tetaplah instrumental. Aku sangat menyukai cover biola yang dibawakan Jung Sung Ahn di Youtube atau instrumental gitar yang dibawakan Sungha Jung. Atau...mendengarkan River Flows In You yang dibawakan oleh Yiruma. Aku tahu kamu suka sekali nonton video di Youtube, menonton MV lagu-lagu Western. Sementara aku, duduk terpana mendengarkan suara biola, gitar akustik, dan piano.

Kedua, tahukah kamu aku pernah belajar piano? Aku bisa memainkan piano meski baru dasar. Temankulah yang mengajariku main piano saat aku masih SMP. Ingatkah rumah besar yang pernah kutunjukkan padamu? Di situlah aku belajar main piano. Di situlah aku dibuat terpana dengan tuts-tuts hitam putih yang biasanya kumainkan di keyboard-ku. Kamu sudah pernah mendengarkan ceritaku, bahwa Mama yang mengajariku main keyboard. Namun piano...aku selalu ingin belajar itu. Sayangnya selalu tak punya waktu dan saat kelulusan aku tak pernah lagi bertemu dengan temanku itu. Nama mereka, Bella dan Sophia. Mereka yang mengajariku. Lagu pertama yang kumainkan adalah Lu Xiau Yu yang dibawakan oleh Jay Chou, salah satu original soundtrack film Mandarin, Secret.

Ketiga, sesuatu yang sedikit nyambung dengan bagian kedua. Aku ingat kamu pernah bertanya, benda apa yang ingin kubeli di dunia ini. Jawabanku adalah piano. Karena lewat pianolah aku belajar menyalurkan kegalauan, selain lewat tulisan. Temanku Bella jika sedang galau akan memainkan lagunya Yiruma, River Flows In You, dan membuatku terpana. Aku ingin sekali meneruskan pelajaran pianoku. Suatu saat, aku ingin beli piano sendiri dan aku ingin mengajari anak-anakku main piano. Bukankah bermain musik dapat mengontrol emosi, ya kan? Lalu selain itu aku menjawab, aku juga ingin beli teropong bintang. Saat aku berkunjung ke Planetarium Ismail Marzuki saat wisata gembira SMP, aku dibuat kagum dengan pemandangan bintang-bintang yang kelap-kelip di langit Jakarta. Bahkan aku tak tahu, bintang dapat terlihat indah jika seandainya tidak ada polusi yang mengotori atmosfer dan polusi cahaya yang berlebihan. Karena itu aku ingin beli teropong bintang, supaya setiap saat aku bisa menikmati cahaya bintang.

Keempat, kamu tahu aku punya kucing baru bernama Axel. Sebenarnya aku sudah beberapa kali memelihara kucing. Kucing pertamaku berbulu hitam, namanya Monti. Lalu kucing keduaku, namanya Kucel. Kucing ketigaku, sedikit mirip Kucel dan adikku menamainya Eunhyuk (salah satu personel SuJu favoritnya, keke...). Lalu yang keempat, barulah Axel.

Kelima, kamu pernah sebal padaku karena aku tak bisa menerima candaan. Hey, kamu jangan sekali-kali mengajakku bercanda saat bad mood ya! Aku membencinya.

Keenam, tahukah kamu, kamulah yang menuntunku bermimpi ke London? Andai saja saat itu kamu setuju pada usulanku untuk melanjutkan belajar di Amerika, aku tak akan pernah kepikiran pergi ke sana. Keke...kamu memang hebat.

Just only you...



Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...