Monday, May 26th 2014
It's just like my imagination to see you gathering beside me
Ya ampun, baru saja kemarin kita kembali menunjukkan passion kita. Baru saja kita tertawa bersama-sama, menertawakan betapa bodohnya aku bisa memberikan segalanya...tertawa bersamanya...hey, dia bukan tipeku!
Dan roda memang berputar. Kali ini dia yang berdiri di atas. Aku di bawahnya. Namun aku tak akan pernah lupa bagaimana dia tertawa gembira merayakan kemenangannya. Bahkan, bodohnya, dia terus melihat namanya yang terpampang jelas di papan, seakan-akan takut ada yang mengganti namanya di papan itu. Baka! He can't stop do anything stupid. Namun kenapa aku malah tertawa?
Sekali pun aku menangis, tapi rasanya tangisanku itu berhenti ketika aku ingat...sebelumnya dia pernah melonjak-lonjak iri ketika aku maju ke depan, tersenyum, melakukan selebrasi kemenanganku yang pertama. Aku bahagia, dia mencibir iri tapi larut dalam kebahagiaanku karena...percayalah, kemenanganku saat itu juga kalau bukan karena dukungannya, siapa lagi?
Kalau begitu, aku juga harus bahagia untuknya kan? Meski dalam hal ini, kita adalah rival. Guru favoritku itu menyadarkanku bahwa...kemampuan kami setingkat, sehingga pastilah terkadang kami harus berganti-ganti posisi. Terkadang aku yang di atas, dia yang di bawahku. Dan kali ini dia yang di atas, sementara aku persis di bawahnya.
Dialah orang yang tak bisa berhenti membuatku menertawakan diri sendiri dan ajaibnya perasaan ini bertahan. Aku bahkan tak mampu mengalihkan pandanganku ke orang lain.
Baiklah, baiklah. Toh, dia juga tak menyangka dia menang. Aku juga tak menyangka.
Yang jelas, aku bahagia. Kami bercanda, tertawa, ribut satu sama lain. Dan aku mengerti, kemungkinan dia sudah menyadari bahwa...aku punya perasaan berbeda padanya dan karena itulah mungkin sikapnya padaku...agak aneh.
Guru favoritku itu pernah berkata padaku, "Kelihatan jelas kok, kalian berdua. Mudah ditebak. Kalau sekarang kau menyadari kalian sama-sama canggung, itu karena mungkin ada sesuatu yang sama-sama kalian miliki. Seandainya tidak ada perasaan di antara kalian berdua, pastinya kalian bisa lebih lepas,"
Well, guru favoritku itu memang pintar menebak. Aku selalu memujinya di belakang dan guru favoritku itu tersenyum mendengarkannya. Beliau berkata, "Kau hanya memuji di belakangnya. Berani tidak kau memujinya di depan? Taruhan, kamu pasti ga berani."
"Well, of course I can't, Sir," jawabku.
Namun jika dia memiliki sesuatu itu, sesuatu yang persis sama denganku, oh aku tidak pernah berharap. Ketika kulihat parasku di cermin dan menyadari betapa anehnya tingkah lakuku untuk seorang gadis normal, aku menggeleng dan bergumam, "Dia tak akan mungkin memandangku,"
Aku sadar persis seperti apa tipe favoritnya dan aku jauh...dari standarnya. Aku terlalu aneh bagi seorang perempuan. Aku tidak bisa duduk manis dan tertawa renyah, sebaliknya aku terlalu aktif dan suka tertawa terbahak-bahak. Aku suka berkelahi, menantang setiap orang yang berani menggangguku, jauh dari sifat perempuan yang anggun. Aku suka sendirian dan aku bukanlah orang yang pas jika diajak berdiskusi soal model pakaian. Tak heran, teman-temanku mengkritisiku soal fashion.
Karena itulah, kurasa, dia tak akan pernah melirikku. Satu hal yang belum pernah ia ucapkan padaku. Ia selalu memujiku, katanya aku pintar, cerdas, mandiri, dan jempolan. Namun ada satu hal, pujian mendasar bagi seorang gadis: cantik.
Well, tidak masalah. Toh aku risih mendengar kata itu. Jika teman-temanku pernah memujiku seperti itu, aku selalu berkata, "Jangan katakan aku cantik. Risih dengernya."
Aneh? Tidak masalah. Guru favoritku mengataiku aneh lebih dari ratusan kali sebelum akhirnya beliau memutuskan satu hal, bahwa aku ini UNIQUE.
Banyak lagi awan-awan yang melambaikan tangan padaku, seperti teringat masa lalu, ketika ia berkata bahwa ia juga ingin berjalan kaki di Kota Pelajar, seperti keluargaku.
He's the only one, who always support me behind
And I don't even know what he want to say everyday
Well, that's okay
Just leave me around here, in my daydreaming...
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar