Langsung ke konten utama

Boomerang!

"Nis, dulu kamu kan IPA. Kok langsung bisa menyesuaikan di IPS?"

Pertanyaan di atas cukup mainstream ditanyakan sekitar seminggu ini. Hm. I wonder why. Mukaku sama sekali tidak mencerminkan adanya kandungan rumus fisika atau apapun itu. Haha. 

Banyak yang belum tahu lebih tepatnya, tetapi jujur saja aku sering tertawa dapat pertanyaan ini. Mengapa? Karena, berarti aku masih ada bekas guratan menghadapi soal-soal IPA di seluruh wajahku! Haha. Padahal aku nggak ada pantes-pantesnya di sana. Teman-temanku di SMA malah bilang aku adalah anak IPS yang nyasar di IPA.

Sebenarnya, ada yang lebih menggelikan lagi ketimbang pertanyaan itu. Ada. Apakah itu? Hm, kenyataan bahwa sekarang aku kuliah di FISIP dan kegiatanku akhir-akhir ini adalah sesuatu yang menggelikan.

Jadi, begini ceritanya.

Percaya atau tidak, aku dulunya juga orang awam meski suka banget sama IPS. Aku benci politik. Setiap kali nonton ada politikus di DPR yang ricuh-ricuh gitu, aku selalu menatap mereka jijik dan mengganti channel TV. Belum lagi dengerin cerita-cerita yang lain. Ditambah dengan perkataan-perkataan politik itu kotor, keji, ini lah, itu lah, yang kudengar dari orang lain. Orangtuaku juga menganggap politik itu demikian. Kotor. Aku sering sekali menulis di buku kesayanganku tentang politik. Politik itu kotor, blablabla. 

Percaya atau tidak, itulah aku yang dulu selama SMA. Aku benci politik karena terlalu banyak konspirasi di dalamnya. Aku benci permainan kotor di baliknya. Benci sebenci-bencinya. Amit-amit pokoknya harus mengurusi politik, begitu batinku dulu. Bahkan, hal-hal seperti inilah yang dulu melandasiku untuk memilih hubungan internasional ketimbang ilmu pemerintahan. Amit-amit duduk di parlemen! 

Namun, ada fenomena yang mengubahku.

Dulu, setiap mentoring di asrama, kami sekali-dua akan membahas politik. Entah mengapa aku gemas sekali dengan teman-temanku yang mengkritik presiden. Selain karena aku sendiri pro-pemerintah, aku juga paham betapa berat memimpin kepala ratusan juta orang dan mereka seenaknya mengkritik dan menjelekkan. Enak sekali ya menyuruh presiden lengser. Padahal, nanti kestabilan politik akan terganggu, kan? *ups*

Wah, wah, Nis, bukannya kamu benci?

Ketika menyadari pemikiranku sendiri, aku menyadari sepenuhnya bahwa sejujurnya ada ketertarikan yang mulai timbul dengan dunia politik. Sebenarnya asyik. Namun, aku belum tertarik dengan politik dalam negeri. Kala itu, aku memfokuskan diri dengan politik luar negeri dengan membaca berita-berita internasional. Aku mulai mencintai politik, tetapi masih membenci situasi politik dalam negeri sendiri. 

Namun, saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk menjadi politikus. Rasa benciku terhadap politik dalam negeri membuatku menulis di dalam list My 100 Dreams: menjadi politikus yang jujur, tidak bergantung partai, dan BERSIH. Ya, rasa benciku pada politik membuatku bercita-cita menjadi politikus. Konyol? Mungkin. Aku sendiri di masa sekarang masih menertawakan kenangan menggelikan itu.

Setelah kelulusan SMA, aku masih saja memikirkan perkataan teman-temanku di asrama. Bahwa mereka ingin dipimpin pemimpin muslim. Bahwa kita tidak boleh memilih pemimpin non-muslim. Bahwa Islam mengatur tata negara dan politik. Semakin memikirkannya, aku semakin kesal pada perkataan-perkataan itu. Terdengar lebih seperti tuntutan ketimbang protes-protes belaka. Uh.

Daripada protes begitu, kenapa bukan kamu saja pemimpinnya?

Ketika timbul gagasan itu dalam pikiranku, entah mengapa cita-citaku untuk jadi politikus menguat. Lebih kuat daripada cita-citaku menjadi seorang guru. Kalau bisa di-rank, nomor satu aku ingin jadi diplomat, kedua politikus, dan ketiga baru guru. Ya. Aku akan jadi politikus. Aku akan duduk di kursi DPR. Jadi warna yang berbeda. Harus!

* * *
Mungkin kita bisa ya idealis di sini, tetapi bagaimana kelak ketika di masyarakat? Kita doakan Anissa ya semoga dia akan tetap sama kelak ketika dia terjun di pemerintahan.

Bu Hermin benar. Ah, ya. Aku jadi ingat apa yang dikatakan beliau di kelas politik minggu ini. Ketika kuliah, aku masih seorang idealis yang membenci korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kelak ketika lulus, apakah aku masih seorang yang sama idealisnya? 

Manusia berubah. Lihatlah aku sekarang. Dulu aku bertekad tidak akan masuk pergerakan mana pun, takut diculik, takut macam-macam. Dulu aku benci sekali kegiatan politik. Sekarang apa yang kulakukan? Aku masuk organisasi pergerakan mahasiswa. Aku terjun ke dalam dunia politik kampus yang penuh dinamika. Rasanya seperti melempar bumerang, tetapi yang kena aku sendiri. Namun, kalau dipikir-pikir lagi sih, nggak sakit. Aku malah sangat menikmatinya sebagai bagian dari kewajiban. Sebab, Mr. Izz pernah bilang begini, "Kalau kamu ada potensi yang bisa mengubah banyak orang, kenapa kamu nggak gunakan? Dosa besar kamu menyia-nyiakannya, membuat orang lain mengalami keterpurukan lebih lama,".

Asal tidak berubah jadi yang lebih buruk, ya kan?

"Mungkin kita bisa ya idealis di sini, tetapi bagaimana kelak ketika di masyarakat? Kita doakan Anissa ya semoga dia akan tetap sama kelak ketika dia terjun di pemerintahan," 

"Aamiin!"



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
  . 

Komentar

  1. Aamiin Ya Rabb, kuatkan anissa, teguhkan idealismenya, kuatkan pundaknya :") tegur iakeika mulai lupa tujuannya, tujuannya untuk dakwah, untuk membela agama-Mu di muka bumi ini :""")))) (hug hug hug)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...