Langsung ke konten utama

Special Edition: ABBS Teachers! (1)

Hei, ho! Good night, all!

Baru kali ini akhirnya sempat nulis tentang guru-guru ABBS. Dulu ada yang minta sih soalnya lewat ask.fm. Okelah, let's describe yaa...one by one, from my perspective. Dari sudut pandangku. Keo, eh, oke? Hihi...

First, Mr. Ajung. Beliau asli Klaten. For the first generation, included me, Mr. Ajung itu punya posisi tersendiri dalam hati kecil masing-masing (hehe...edisi baper nih). Emang sih, tiap di kelas itu pasti ada yang jadi 'korban' Mr. Ajung, mulai dari diejekin sampai ditunjuk maju agenda Rabu PeDe-nya ABBS. But still, he has a special position for us karena beliau udah ada dari sejak kita pertama kali masuk ABBS dan kenal kita luar-dalam. Aku kalo lagi ngobrolin Mr. Ajung selalu ingat tiga momen, pertama, pas akhirnya gagal buat masuk delapan besar English debate di UNS, beliau kirim SMS motivasi. Kedua, pas mendadak diumumin maju OSP beliau SMS ngucapin selamat padahal I know he's busy with his thesis. Ketiga, pas di kelas yaa...kan biasa tuh teman-teman celotehan ini itu, trus tahu-tahu beliau bilang, "Mbok an kayak Antania tuh lho, pokemon," pada awalnya bingung pokemon itu apaan, eh ternyataaaa...pokemon itu singkatan dari pokoke ora gelem move on. -_-"

Duh, pokemon ya?
 
Second, Mrs. Tia. Rumah beliau deket sama GOR Budi Langgeng yang biasa jadi tempat anak-anak ekstra badminton. The calmest teacher in ABBS dan pokoknya...kalo liat beliau gitu rasanya adem banget, tapi maafin aku ya, Mrs. Tia, karena kadang aku suka tidur pas pelajarannya Mrs. Tia (-_-"). Paling sering ketemu juga sih ya, soalnya beliau sering salat jama'ah bareng kita di lantai tiga. Oh ya, beliau punya satu anak laki-laki, namanya Ismail. Baru ketemu sama Ismail pas diajak Mrs. Tia ke Goro pas kapan gitu. Dulu pas kelas X ga ikutan jenguk Ismail pas teman-teman sekelasku pada banyak yang ke sana. Beliau itu...wise banget lah pokoknya, jilbabnya panjang, paling senang kalo Mrs. Tia negur kita kalau jilbabnya masih salah, and the most amazing thing is she's very patient. Sabar banget beneran.

Third, Mr. Dhimas. Kalo beliau sih...aslinya dari Jambi. Emang baru masuk sih pas kelas tiga, eh, lebih tepatnya pas angkatan 1 lagi UAS semester dua kelas dua. Kan beliau dulu ngawasin kelasku tuh. The fact that I know about him well is...beliau ini coffee mania. Alasannya sederhana, karena menurut beliau 24 jam dalam sehari itu sebenarnya nggak cukup. Honestly, aku biasanya suka nyinggung kebiasaan beliau yang sering banget minum kopi karena so pasti ga sehat. Kadang aku 'ngomel', "Sir, mbok an ga usah minum kopi terus gitu lho! Kan ga baik!" kadang aku cuma bilang, "Sir, jangan minum kopi terus yaa..." dan beliau cuma jawab dengan ya atau hem atau insya allah (tapi pada akhirnya aku juga ikutan minum kopi, kemarin Selasa sebelum UTS dibawain kopi robusta, mantep udahan itu aku ga bisa tidur lebih dari 10 jam!). But recently beliau udah mulai suka minum teh tarik juga, tapi katanya at least butuh susu buat bikinnya. Oh ya, beliau dulu ikut program mengajar di Papua. Wow, Papua! Keren kan? And he ever taught Bahasa Indonesia in Australia! Wow...

Fourth, Miss Intan. Beliau asli Rembang, daerah Pantura. Kemarin barusan aja pulang kampung bareng aku :3 dan beliau guru Fisika yang sumpah nyenengin abis. Beliau itu...satu angkatan sama Mr. Alqaan, malah satu geng dulu. Satu pelajaran yang bisa aku ambil dari beliau itu...pas aku ngeluh bilang aku nggak cocok di IPA, beliau selalu wisely nasihatin aku buat bersabar dan berusaha lebih keras. Bukan karena nggak cocok, tapi karena usahanya keras, she said. It's a very super quote. Beliau orangnya unik, pas di terminal pinginnya naik bus Safari atau Taruna gitu kan and itu bus favoritku juga pas pulkam. Eh, ternyata kelamaan, kepaksa naik yang lain. Hoho...

Segini dulu deh, next time lagi ya pas aku pulkam lagi. ;)




Mitarashi Hana  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...