Langsung ke konten utama

Sebuah Kenangan: Black Coffee

Selasa sebelum masuk ruang ujian, aku melakukan sesuatu yang mungkin bukan seperti biasanya. Aku membuat janji dengan Mr. Dhimas untuk minum kopi sebelum bel masuk berbunyi dan lewat SMS beliau bilang akan membawakan kopi hitam Robusta yang amat kuat.

Aku agak baperan orangnya, gampang teringat sesuatu yang memancing kenangan. Kopi hitam itu punya kenangan. Dulu di SMP aku pernah suka kopi hitam dan meminumnya bersama teman-teman ketika di karantina OSN IPS tingkat provinsi. Dulu aku berebut dengan teman-temanku yang laki-laki karena hanya satu gelas kopi hitam saja yang tersisa di dapur Wisma UKSW, Salatiga. Sialnya, aku kalah. Kekuatan perempuan memang tak sebanding dengan laki-laki.

Bersama secangkir kopi hitam itu aku begadang dengan teman-temanku yang saat itu kebanyakan laki-laki dan perempuannya hanya ada dua, aku dan satu temanku yang Chinese bernama Cheng Katrin. Kami belajar bersama, menyelesaikan soal, bercanda, tertawa keras, dan saling menyemangati satu sama lain. Kopi hitam itu membuatku terjaga, tapi tidak juga membuatku bangun siang. Aku tetap bangun pagi, mandi pagi, dan menjalankan aktivitas baruku bersama teman-temanku itu. Sosok teman-teman yang selalu kubayangkan ada di SMP. Teman-teman yang mau berusaha keras tanpa menyontek. Ah ya, seorang bapak dari dinas pendidikan yang jaga malam di sana waktu itu melihat interaksi kami seperti teman yang sudah kenal lama sekali. Begitu akrab, begitu dekat.

Sebenarnya hari itu, ketika Mr. Dhimas menyesap kopinya sambil menonton TV dan aku menyesap kopi Robusta itu sambil sesekali melihatnya, aku terbawa kenangan itu. Sayangnya saat itu sepertinya kopi hitam yang kusesap bukan kopi Robusta. Sebab tahukah kau, kopi Robusta yang dibawa Mr. Dhimas benar-benar amat kuat. Aku tidak hanya terjaga saat mengerjakan soal-soal UTS, tapi juga terjaga sepanjang perjalananku dari Solo ke kampung halamanku di Ungaran sampai pada akhirnya aku baru tertidur sekitar jam 1 atau 2 dini hari. Hey, seingatku dulu aku tidak separah itu terjaganya. Jam 12 aku sudah tidur selama di UKSW.

Ah ya, kopi hitam. Kau sungguh membawaku pada kenangan manis saat itu. Satu-satunya kenangan manis yang kupunya saat SMP.

Hari itu, ketika kusesap lagi Robusta itu dari gelas yang kubawa dan kuisi gula dari boarding, aku sedikit bertanya-tanya. Apa Mr. Dhimas juga punya kenangan tentang black coffee? Apakah setiap orang punya kenangan manis dengan setiap minuman yang mereka minum? Atau hanya aku saja yang kebetulan baper?

Hari ini aku tidak menyesap kopi hitam lagi. Aku hari ini minum cappuccino.






Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

True Self

Minggu, 15 Oktober 2017 "...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,". "...". "Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',". "..." * * * Selasa, 5 Desember 2017 "Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,". Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah. Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya y...