Hito wa hito, jibun wa jibun
Menurutmu mana yang lebih menyenangkan, memasuki hutan hujan tropis, sabana, atau hutan musim? Jika pertanyaan itu untukku aku lebih suka memasuki hutan hujan tropis.
Bukan apa-apa, sih. Soalnya bukankah membosankan memasuki hutan musim yang homogen atau sabana yang panas?
Lebih dari itu, bukankah biasanya kita menginginkan sesuatu yang terlihat keren? Yakinku, kalau seandainya kita disuruh pergi ke hutan karet untuk berwisata, akan sedikit membosankan karena sepanjang mata memandang hanya terlihat pohon karet di mana-mana. Mungkin beda kasus kalau seandainya kita diajak makan siang di bawah sakura yang berguguran, itu pasti terlihat keren. Namun, bukannya sakura itu hanya mekar di musim semi, tidak seperti pohon karet yang tetap bisa kau lihat di sepanjang musim?
Kita pun bisa seindah sakura, jika berada di waktu yang tepat. Bukankah kita harus tampil homogen di beberapa kesempatan? Sekolah dan tempat kerja menuntut untuk tampil seragam demi ketertiban, bukan? Namun, apakah di dalam setiap kesempatan kau mau tampil homogen? Kebanyakan remaja sekarang bukannya justru agak gengsi kalau ada yang berpakaian sama dengannya?
Aneh ya. Remaja sekarang kalau bajunya ada yang kembaran dengan dia saja rasanya udah hampir meledak perasaannya. Namun, dia takut dianggap kuno, tidak gaul, dan anggapan pesimistis lainnya kalau tidak menyukai sesuatu yang sama dengan orang lain.
Tahukah kau, hutan hujan tropis itu terlihat sejuk dipandang sepanjang musim karena pohonnya beranekaragam?
Seandainya warna dunia bisa beranekaragam dan banyak orang menertawakan sesuatu yang berbeda, bisa jadi tidak perlu ada lagi konflik beragama, ras, suku, dan bangsa.
Seandainya, mereka mengerti betapa indahnya prinsip hutan hujan tropis...
Mitarashi Hana
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar