Langsung ke konten utama

Dear Best Friend

Aku sengaja meluangkan waktuku hari ini untuk mengungkapkan betapa aku sangat berterima kasih padamu. Benar-benar terima kasih yang bahkan aku tidak tahu harus mengungkapkannya. 

Kita berkenalan saat aku bukan siapa-siapa. Saat aku hanya seorang cewek yang suka rusuh sana-sini dan bikin ulah. Ketika aku baru merayap sejengkal demi sejengkal, kamu mengajariku bermimpi, mengejar mimpi, dan meyakini mimpi. Sungguh sebuah pelajaran yang berarti. 

Kamu ada di mana saja ketika aku membutuhkan seorang yang bisa kuajak bicara dan mengerti watakku yang dulunya keras. Kamu melihatku tertawa, tersenyum, dan menangis. Kamu menyemangatiku saat aku sudah putus asa dan belum bisa menerima kekalahan. Kamu membelaku ketika hampir semuanya berpaling dariku. Aku bahkan tidak bisa mengerti mengapa kamu tetap membelaku dan menasihatiku, padahal aku sudah di-bully dan benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku benar-benar berterima kasih untuk semua itu.

Aku benar-benar mengapresiasimu untuk semua hal. Kamu bukan bayangan yang tiba-tiba ada dan menghampiriku saat akhirnya satu per satu impianku tercapai. Tidak, tidak. Kamu ada sejak aku bukan siapa-siapa. Kamu ada sejak aku masih belajar merangkak ke puncak. Kamu melihatku sendiri berjuang dan menyemangatiku. Di titik ini, ketika aku sudah meraihnya sedikit demi sedikit, kamu tetap ada untuk melihatku terus berjuang meski entah kamu ada di mana sekarang. Meski kita sudah tidak bertemu muka lagi.

Ya, benar. Kita memang tidak bertemu muka, bertegur sapa, dan bercanda seperti dulu. Kita dipisahkan oleh jarak dan kesibukan masing-masing yang memerlukan seluruh perhatian kita. Namun, aku tahu kamu tetap ada untuk semua waktuku. Untuk setiap masa senang dan masa sulitku. Aku tahu kamu tetap di sana, untuk menerima kabar senang dan dukaku.

Kamu mungkin memang bukan superhero, tapi cukup buatku kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki sepanjang hidupku. Kamu tetap mengingatku dengan baik meski kita sudah sibuk masing-masing, buatku itu sudah menjadi bukti betapa kamu adalah kenangan terindah yang pernah kumiliki. 

Jika ada satu permintaan yang benar-benar ingin dikabulkan oleh-Nya, aku hanya berharap suatu hari nanti kita bertemu lagi. Ketika akhirnya impian kita sudah tergenggam di tangan masing-masing. Aku ingin bercanda lagi denganmu dan...yang terpenting aku ingin mengungkapkan segala rasa terima kasihku padamu. Keberadaanmu benar-benar berarti di kehidupanku. 

Semoga kamu baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya, di mana pun kamu berada sekarang.

Always, it's always been in my heart
That's why I really want to express it
Thank you, from now on, thank you... 



Mitarashi Hana 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...