Sabtu, 24 Januari 2015
Perlukah kita melakukan sebuah perjalanan?
Mungkin sedikit perlu, jika kita sadari betapa tersesatnya kita di tempat yang kita pijaki sekarang. Betapa lebih banyak yang tuli, buta, dan tertutup mata hatinya di tempat kita berpijak. Lebih-lebih jika mereka bebal, bodoh, dan apalagi yang bisa dijelaskan oleh Al Qur'an tentang orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran? Layaknya Firaun dan Kaum Tsamud?
Terkadang sesekali kita perlu kembali ke masa sebelumnya, layaknya manusia yang berusaha menjawab pertanyaan untuk apa ia diciptakan. Memang kita perlu menjawabnya, kan? Agar kita tidak menjadi sebebal mereka yang tidak mau menerima kebenaran.
Selamilah laut, dakilah gunung, bersafarilah di sabana, dan hiruplah setiap udara segar. Ketika melihat burung berkicau di tengah perjalanan, melihat pelangi muncul di antara bukit-bukit, melihat air terjun tersembunyi di lereng gunung, catatlah dalam hati apa yang kita lihat di sana.
Dan nikmat Tuhan apalagi yang kau dustakan?
Teringatkah akan perkataan di atas? Di sebuah surah, firman Tuhan ini diulang-ulangi, terus dan terus diulang-ulangi. Kita akan sadari betapa pentingnya kalimat di atas menjadi kajian tiap hati yang terus merasa kurang dikasihi atau oase bagi hati-hati yang telah menemukan hakikat sejati.
Apalagi nikmat Tuhan yang kita dustakan? Setiap helaan napas sejak kita membuka mata di dunia, setiap kebahagiaan, setiap tawa, bahkan setiap masalah, apalagi yang kita dustakan? Terkadang bagi hati-hati yang masih tertancap batasan syukur mungkin akan sulit mengatakan betapa nikmatnya hal-hal di atas. Namun, setiap manusia sudah sepantasnya menyadari apa yang sudah diberikan oleh penciptanya agar tidak kurang ajar seperti kaum-kaum sebelumnya yang seperti 'hewan ternak'.
Bukankah kita sangat ingin berterima kasih kepada orang yang membuat kita berhutang budi? Maka pertanyaan yang sama akan kita jawab dengan iya jika itu adalah Allah. Dzat Yang Maha Esa, yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan.
Mungkin cukup ini menjadi pencarian pertama kita. Membuka mata batin kita yang sudah lelah di tempat kita berpijak yang penuh huru-hara dan kekacauan.
Kali lain, marilah kita mencari lagi mutiara-mutiara Allah yang lain. Kasih-Nya yang tak akan pernah terbatas, baik terhadap hamba-Nya dan musuh-Nya.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar