Sunday, March 2nd 2014
I hope they will understand.
Aku hanya teringat beberapa guru dan seorang sahabatku tertawa bersama sesaat sebelum aku kembali ke tempat di mana aku dilahirkan. Tersenyum, mengingat aku berada di kota yang asing bagiku sebelumnya. Tersenyum lagi, mengingat aku beruntung memiliki sahabat di kota asing ini.
Hanya saja...aku merasa beberapa bagian dalam hidupku masih belum seindah hari ini. Jika diibaratkan hatiku ini seperti bumi, maka kau akan melihat di beberapa belahan cuacanya cerah, tetapi di belahan yang lain cuacanya mendung, bahkan hujan.
"Proud of you,"
Aku hanya tersenyum mengingat Mr. X yang menulis di bukuku. Berharap saja semoga aku bisa menebak siapa identitasnya. Sayangnya aku bukan mata-mata handal.
Ketika bus membawaku pergi dari kota asing tersebut, pikiranku melayang-layang akan Mr. X di bukuku. Apakah itu kamu? Kamu yang selama ini diam-diam menyusup halus dalam pikiranku? Atau...jangan-jangan...itu si secret admirer baru?
Terjebak di antara dua sahabat berbeda dunia itu menyenangkan. Masing-masing mereka menjadi cerminku atas beberapa sisi. Namun, aku seperti takut menghadapi affair dengan mereka.
Oh cinta, kau begitu misterius!
Aku berusaha menyibukkan diriku dengan menjadi 9 orang yang berbeda per kegiatan. Namun aku masih bingung seperti apakah kami nantinya?
Perasaanku masih tertaut pada satu orang. Dia yang bisa mengerti diriku, membuatku melupakan duniaku yang terkadang membosankan bagiku sendiri. Aku yang selalu diam-diam menatap senyumnya, diam-diam mengabadikan setiap kata-katanya dalam ingatan, berubah menjadi puisi-puisi pendek di diariku.
Aneh rasanya. Aku berusaha melupakan, berusaha mencari yang lebih baik, tapi kenapa dia yang ada di pikiran ini?
Seperti lagu Still You yang sering aku dengarkan dalam hening dari laptopku, rasanya meski ia jauh, aku masih bisa mengingatnya, dalam diamku.
Besok aku akan melihatnya beraksi. Entah apa yang akan kupikirkan, apakah harus tertawa geli, tersenyum, ataukah...tetap diam untuk menutupi gaung perasaanku yang semakin mengeras?
Apapun itu yang jelas akulah yang akan ada di barisan paling depan untuk melihatnya.
It's because still you...
Mitarashi Hana
I hope they will understand.
Aku hanya teringat beberapa guru dan seorang sahabatku tertawa bersama sesaat sebelum aku kembali ke tempat di mana aku dilahirkan. Tersenyum, mengingat aku berada di kota yang asing bagiku sebelumnya. Tersenyum lagi, mengingat aku beruntung memiliki sahabat di kota asing ini.
Hanya saja...aku merasa beberapa bagian dalam hidupku masih belum seindah hari ini. Jika diibaratkan hatiku ini seperti bumi, maka kau akan melihat di beberapa belahan cuacanya cerah, tetapi di belahan yang lain cuacanya mendung, bahkan hujan.
"Proud of you,"
Aku hanya tersenyum mengingat Mr. X yang menulis di bukuku. Berharap saja semoga aku bisa menebak siapa identitasnya. Sayangnya aku bukan mata-mata handal.
Ketika bus membawaku pergi dari kota asing tersebut, pikiranku melayang-layang akan Mr. X di bukuku. Apakah itu kamu? Kamu yang selama ini diam-diam menyusup halus dalam pikiranku? Atau...jangan-jangan...itu si secret admirer baru?
Terjebak di antara dua sahabat berbeda dunia itu menyenangkan. Masing-masing mereka menjadi cerminku atas beberapa sisi. Namun, aku seperti takut menghadapi affair dengan mereka.
Oh cinta, kau begitu misterius!
Aku berusaha menyibukkan diriku dengan menjadi 9 orang yang berbeda per kegiatan. Namun aku masih bingung seperti apakah kami nantinya?
Perasaanku masih tertaut pada satu orang. Dia yang bisa mengerti diriku, membuatku melupakan duniaku yang terkadang membosankan bagiku sendiri. Aku yang selalu diam-diam menatap senyumnya, diam-diam mengabadikan setiap kata-katanya dalam ingatan, berubah menjadi puisi-puisi pendek di diariku.
Aneh rasanya. Aku berusaha melupakan, berusaha mencari yang lebih baik, tapi kenapa dia yang ada di pikiran ini?
Seperti lagu Still You yang sering aku dengarkan dalam hening dari laptopku, rasanya meski ia jauh, aku masih bisa mengingatnya, dalam diamku.
Besok aku akan melihatnya beraksi. Entah apa yang akan kupikirkan, apakah harus tertawa geli, tersenyum, ataukah...tetap diam untuk menutupi gaung perasaanku yang semakin mengeras?
Apapun itu yang jelas akulah yang akan ada di barisan paling depan untuk melihatnya.
It's because still you...
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar